TEMPO.CO, Jakarta -Hari ini 52 tahun lalu atau tepatnya 1969, aktivis Soe Hok Gie pergi untuk selamanya di ketinggian Semeru. Bagi mahasiswa tak asing dengan nama Soe Hok Gie yang menjadi ikon idealisme angkatan 66 dan awal Orde Baru. Seorang aktivis yang gemar mengkritik pemerintah melalui tulisan-tulisannya yang tajam. "Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda." ― Soe Hok Gie Sebuah buku dokumentasi catatan harian seorang intelektual muda Indonesia (bernama Soe Hok-Gie) yang ditulis ketika dia berumur 15-27 tahun (1957-1969), tepat pada sebuah era dimana bangsa Indonesia mengalami pergulatan politik dan sejarah yang paling gelap sekaligus paling mencekam dalam sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa itu masih melekat di benak Herman Lantang, 65 tahun. Man, entar turunnya bareng gue. Lu, gue tunggu di sini, kata Soe Hok Gie. Soe Hok Gie beristirahat di sebuah ceruk. Ia menggigil kedinginan. Udara Gunung Semeru sangat menusuk waktu itu,16 Desember 1969. Soe Hok Gie pun akhirnya mati muda seperti keinginannya. Dia memang berdarah keturunan Tionghoa, tetapi mungkin lebih nasionalis daripada sebagian besar pribumi disini. "Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, dan Nessy Luntungan (Ed) dalam Soe Hok Gie Sekali Lagi: Buku, Pesta, dan Cinta di Alam Bangsanya (2009:19), Rudy menceritakan secara detail bagaimana sebelum tragedi itu terjadi, semua berjalan seolah bakal tak ada kejadian yang genting. .

puisi soe hok gie mati muda